Sabtu, 31 Maret 2018

Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)

Nama : Fikri Fidiyanto
Kelas : 1KB07
Dosen : Ahmad Nasher

Gunadarma University

Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)

Pada kesempatan kali ini saya akan membahas mengenai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), sebelum membahas EYD pastinya kita harus tahu terlebih dahulu apa itu Ejaan. Ejaan adalah penggambaran bunyi bahasa (kata, kalimat, dan sebagainya) dengan kaidah tulisan (huruf) yang distandardisasikan dan mempunyai makna. Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa demi keteraturan dan keseragaman bentuk, terutama dalam bahasa tulis.


Sedangkan Ejaan Yang Disempurnakan adalah ejaan bahasa Indonesia yang berlaku dari tahun 1972 sampai 2015. Ejaan Yang Disempurnakan / EYD ini menggantikan Ejaan Soewandi atau Ejaan Republik. Selanjutnya Ejaan Yang Disempurnakan digantikan oleh Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) sejak tahun 2015.

Perbedaan dengan EYD dan EBI

Perbedaan Ejaan yang Disempurnakan dengan Ejaan Bahasa Indonesia adalah:
Penggunaan huruf tebal. Dalam EYD, fungsi huruf tebal ada tiga, yaitu menuliskan judul buku, bab, dan semacamnya, mengkhususkan huruf, serta menulis lema atau sublema dalam kamus. Dalam EBI, fungsi ketiga dihapus.
Penambahan huruf vokal diftong. Pada EYD, huruf diftong hanya tiga yaitu ai, au, oi, sedangkan pada EBI, huruf diftong ditambah satu yaitu ei (misalnya pada kata geiser dan survei).

Ruang Lingkup Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)

Sesuai dengan ketentuan dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. Ruang lingkup EYD meliputi 5 aspek yaitu:
1. Pemakaian Huruf
Ejaan bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) dikenal paling banyak menggunakan huruf abjad. Sampai saat ini jumlah huruf abjad yang digunakan sebanyak 26 buah.

A. Huruf Abjad
Abjad yang digunakan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri dari huruf berikut ini. Nama setiap huruf disertakan disebelahnya.
Huruf Abjad
B. Huruf Vokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri dari huruf a, i, u, e, dan o. Contoh pemakaian huruf vokal dalam kata adalah.
  • Pemakaian huruf vokal "a" : api, padi, lusa.
  • Pemakaian huruf vokal "i" : itu, simpan, padi.
  • Pemakaian huruf vokal "u" : ulang, tahun, itu.
  • Pemakaian huruf vokal "e" : enak. petak, sore.
  • Pemakaian huruf vokal "o" : oleh, kota, radio.

C. Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia adalah huruf yang selain huruf vokal yang terdiri dari huruf-huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.

D. Gabungan Huruf Konsonan
Di dalam bahasa Indonesia terdapat 4 gabungan huruf yang melambangkan konsonan, yaitu : kh, ng, ny, dan sy. Masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan.
  • Pemakaian Gabungan Huruf Konsonan "kh" : khusus, akhir, tarikh.
  • Pemakaian Gabungan Huruf Konsonan "ng" : ngarai, bangun, senang.
  • Pemakaian Gabungan Huruf Konsonan "ny" : nyata, banyak
  • Pemakaian Gabungan Huruf Konsonan "sy" : syarat, musyawarah, arasy.

E. Huruf Diftong
Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au, dan oi. Contoh pemakaiannya dalam kata
  • Pemakaian Huruf Diftong "ai" : balairung, pandai.
  • Pemakaian Huruf Diftong "au" : autodidak, taufik, harimau.
  • Pemakaian Huruf Diftong "oi" : boikot, amboi.

2. Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf Miring

A. Huruf Kapital atau Huruf Besar
Huruf Kapital dipakai sebagai huruf pertama pada awal kalimat, petikan langsung, ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan, unsur nama jabatan, nama gelar kehormatan, keturunan, nama orang, nama bangsa, suku, nama geografi, bulan, tahun, dll.
B. Huruf Miring
Huruf Miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, surat kabar, yang dikutip dalam tulisan, nama ilmiah atau ungkapan asing (kecuali yang telah disesuaikan ejaannya), dan untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata.

3. Penulisan Kata

Ada bebrapa hal yang pelru diperhatikan dalam penulisan kata, yaitu :
A. Kata Dasar
Kata dasar adalah kata yang belum mengalami perubahan bentuk, yang ditulis sebagai suatu kesatuan.
Misalnya :
  • Buku itu sangat tebal.
  • Kantor pajak penuh sesak.

B. Kata Turunan (Kata berimbuhan)
Kata Turunan (Kata berimbuhan) Kaidah yang harus diikuti dalam penulisan kata turunan, yaitu :
Imbuhan semuanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Misalnya :
  • Menulis
  • Membaca
Awalan dan akhrian ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya jika bentuk dasarnya berupa gabungan kata.
Misalnya :
  • Sebar luaskan
  • Bertepuk tangan
Jika bentuk dasarnya berupa gabungan kata dan sekaligus mendapat awalan dan akhiran, kata itu ditulis serangkai.
Misalnya :
  • Keanekaragaman
  • Menandatangani
Jika salah satu unsur gabungan kata hanya digunakan dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya :
  • Mahaadil
  • Antarkota

C. Kata Ulang
Kata ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda (-).
Jenis jenis kata ulang yaitu :
  • Dwipurwa yaitu pengulangan suku kata awal. Misalnya = Laki : Lelaki
  • Dwilingga yaitu pengulangan utuh atau secara keseluruhan. Misalnya = Laki : Laki-laki
  • Dwilingga salin suara yaitu pengulangan variasi fonem. Misalnya = Sayur : Sayur-mayur 
  • Pengulangan berimbuhan yaitu pengulangan yang mendapat imbuhan. Misalnya =Main : Bermain-main

4. Pemakaian Tanda Baca

Tanda koma (,)
Kaidah penggunaan tanda koma (,) digunakan:
  • Antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
  • Memisahkan anak kalimat atau induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
  • Memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata tetapi atau melainkan.
  • Memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
  • Digunakan untuk memisahkan kata seperti : o, ya, wah, aduh, dan kasihan.
  • Dipakai diantara : (1) nama dan alamat, (2) bagina-bagian alamat, (3) tempat dan tanggal, (4) nama dan tempat yang ditulis secara berurutan.
  • Dipakai antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
  • Dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
  • Dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
  • Dipakai di antara bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
  • Menghindari terjadinya salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
  • Tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau seru.
Tanda Titik (.)
Penulisan tanda titik di pakai pada :
  • Akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan
  • Akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.
  • Akhir singkatan nama orang.
  • Singkatan atau ungkapan yang sudah sangat umum. Bila singkatan itu terdiri atas tiga hurus atau lebih dipakai satu tanda titik saja.
  • Dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
  • Dipakai untuk memisahkan bilangan atau kelipatannya.
  • Memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
  • Tidak dipakai pada akhir judulyang merupakan kepala karangan atau ilustrasi dan tabel.

Tanda Titik Tanya ( ? )
Tanda tanya dipakai pada :
  • Akhir kalimat tanya.
  • Dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang diragukan atau kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

Tanda Seru ( ! )
Tanda seru digunakan sesudah ungkapan atau pertanyaan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, rasa emosi yang kuat dan ketidakpercayaan.

Tanda Titik Dua ( : )
Tanda titik dua dipakai untuk :
  • Sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemberian.
  • Pada akhir suatu pertanyaan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
  • Di dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan
  • Di antara judul dan anak judul suatu karangan.
  • Di antara bab dan ayat dalam kitab suci
  • Di antara jilid atau nomor dan halaman
  • Tidak dipakai apabila rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.

Tanda Titik Koma ( ; )
Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara. dan digunakan untuk memisahkan kalimat yang setara dalam kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Tanda Garis Miring ( / )
Tanda garis miring ( / ) dipakai untuk :
  • Dalam penomoran kode surat.
  • Sebagai pengganti kata dan,atau, per, atau nomor alamat.

Tanda Petik ( "…" )
Tanda petik dipakai untuk :
  • Mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.
  • Mengapit kata atau bagian kalimat yang mempunyai arti khusus, kiasan atau yang belum
  • Mengapit judul karangan, sajak, dan bab buku, apabila dipakai dalam kalimat.

Tanda Elipsis (…)
Tanda ini menggambarkan kalimat-kalimat yang terputus-putus dan menunjukkan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dibuang. Jika yang dibuang itu di akhir kalimat, maka dipakai empat titik dengan titik terakhir diberi jarak atau loncatan.

Tanda Penyingkat atau Apostrof ( ‘ )
Tanda penyingkat dipakai untuk menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.
Misalnya:
  • 1 Januari ’88. (’88 = 1988)
  • Ali ‘kan kusurati. (‘kan = akan)
  • Malam ‘lah tiba. (‘lah = telah)

Tanda Petik Tunggal ( ‘...’ )
Tanda petik tunggal dipakai untuk:
  • Mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
  • mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing.

5. Penulisan Unsur Serapan

Penulisan unsur serapan pada umumnya mengadaptasi atau mengambil dari istilah bahasa asing yang sudah menjadi istilah dalam bahasa Indonesia. Contoh : president menjadi presiden

Penyerapan unsur asing dalam penggunaan bahasa indonesia dibenarkan, sepanjang :
  • Unsur asing itu merupakan istilah teknis sehingga tidak ada yang layak mewakili dalam bahasa Indonesia, akhirnya dibenarkan, diterima, atau dipakai dalam bahasa Indonesia.
  • Konsep yang terdapat dalam unsur asing itu tidak ada dalam bahasa Indonesia.

Sebaliknya seandainya dalam bahasa Indonesia sudah ada unsur yang mewakili konsep tersebut, maka penyerapan unsur asing itu tidak perlu diterima. Menerima unsur asing dalam perbendaharaan bahasa Indonesia bukan berarti bahasa Indonesia miskin kosakata atau ketinggalan. Penyerapan unsur serapan asing adalah hal wajar, karena setiap bahasa mendukung kebudayaan pemakainya. Sedangkan kebudayaan setiap penutur bahasa berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Maka dalam hal ini dapat terjadi saling mempengaruhi yang biasa disebut akulturasi.

Sebagai contoh pada masyarakat penutur bahasa Indonesia tidak mengenal konsep "televisi" dan "radio", maka diseraplah dari bahasa asing (Inggris). Begitu pula sebaliknya, di Inggris tidak mengenal adanya konsep "sarung" dan "bambu", maka mereka menyerap bahasa Indonesia itu dalam bahasa Inggris.

Berdasarkan taraf integritasnya, unsur serapan dalam bahasa Indonesia dikelompokkan dua bagian, yaitu :
  1. Secara adaptasi, yaitu apabila unsur asing itu sudah disesuaikan ke dalam kaidah bahasa Indonesia, baik pengucapannya maupun penulisannya. Salah satu contoh yang tergolong secara adaptasi, yaitu : fungsi, koordinasi, manajemen, atlet, sistem, material, ekspor.
  2. Secara adopsi, yaitu apabila unsur asing itu diserap sepenuhnya secara utuh, baik tulisan maupun ucapan, tidak mengalami perubahan. Contoh yang tergolong secara adopsi, yaitu : bridge, de facto, civitas academica, editor.

Kesimpulan :
    • Perbedaan Ejaan yang Disempurnakan dengan Ejaan Bahasa Indonesia adalah:
      Penggunaan huruf tebal. Dalam EYD, fungsi huruf tebal ada tiga, yaitu menuliskan judul buku, bab, dan semacamnya, mengkhususkan huruf, serta menulis lema atau sublema dalam kamus. Dalam EBI, fungsi ketiga dihapus.
    • Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) merupakan penyempurnaan dari ejaan - ejaan sebelumnya.
    • EYD diresmikan pada saat pidato kenegaraan memperingati HUT Kemerdekaan RI 27 pada tanggal 17 Agustus 1972.
    • Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) menggantikan ejaan sebelumnya, Ejaan Republik dan Ejaan Soewandi. Yang kemudian dikukuhkan dalam Surat Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.
    • Ruang Lingkum EYD mencakup 5 aspek, yaitu Pemakaian Huruf, Penulisan Huruf, Penulisan Kata, Penulisan Unsur Serapan, dan Pemakaian Tanda Baca.

    Sumber :
    • http://www.markijar.com/2017/05/pedoman-ejaan-yang-disempurnakan-eyd.html
    • https://id.wikipedia.org/wiki/Ejaan_yang_Disempurnakan

    Minggu, 25 Maret 2018

    Ragam Bahasa

    Nama : Fikri Fidiyanto
    Kelas : 1KB07
    Dosen : Ahmad Nasher

    Universitas Gunadarma

    Ragam Bahasa

    Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara (Bachman, 1990). Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik (mempunyai prestise tinggi), yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi.
    Menurut Dendy Sugono (1999 : 9), bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi remi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku.

    B.      Macam-macam ragam Bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi 3 jenis :

    1.       Berdasarkan Media
    2.       Berdasarkan Cara Pandang Penutur
    3.       Berdasarkan Topik Pembicaraan


    1.      Ragam Bahasa Indonesia Berdasarkan Media

             Ragam Lisan

    Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelepasan kalimat. Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur  di dalam kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan.
    Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa lisan dituliskan, ragam bahasa itu tidak dapat disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan, hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dalam bentuk tulis, ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis.  Kedua ragam itu masing-masing, ragam tulis dan ragam lisan memiliki ciri kebakuan yang berbeda.


    Ciri-ciri ragam lisan:

    a.       Memerlukan orang kedua/teman bicara.
    b.      Tergantung situasi, kondisi, ruang & waktu.
    c.       Tidak harus memperhatikan unsur gramatikal, hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh.
    d.      Berlangsung cepat.
    e.       Sering dapat berlangsung tanpa alat bantu.
    f.       Kesalahan dapat langsung dikoreksi.
    g.      Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik wajah serta intonasi.

    Kelebihan ragam bahasa lisan:
    a.    Dapat disesuaikan dengan situasi.
    b.    Faktor efisiensi.
    c.    Faktor kejelasan karena pembicara menambahkan unsure lain berupa tekan dan gerak anggota badan agah pendengar mengerti apa yang dikatakan seperti situasi, mimik dan gerak-gerak pembicara.
    d.    Faktor kecepatan, pembicara segera melihat reaksi pendengar terhadap apa yang dibicarakannya.
    e.    Lebih bebas bentuknya karena faktor situasi yang memperjelas pengertian bahasa yang dituturkan oleh penutur.
    f.     Penggunaan bahasa lisan bisa berdasarkan pengetahuan dan penafsiran dari informasi audit, visual dan kognitif.
    Kelemahan ragam bahasa lisan :
    a.    Bahasa lisan berisi beberapa kalimat yang tidak lengkap, bahkan terdapat frase-frase sederhana.
    b.    Penutur sering mengulangi beberapa kalimat.
    c.    Tidak semua orang bisa melakukan bahasa lisan.
    d.    Aturan-aturan bahasa yang dilakukan tidak formal.
             Ragam Tulis

    Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis makna kalimat yang diungkapkannya tidak ditunjang oleh situasi pemakaian, sedangkan ragam bahasa baku lisan makna kalimat yang diungkapkannya ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalimat. Oleh karena itu, dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis diperlukan kecermatan dan ketepatan di dalam pemilihan kata, penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk kata dan struktur kalimat, serta kelengkapan unsur-unsur bahasa di dalam struktur kalimat.

    Ciri-ciri ragam tulis :

    1. Tidak memerlukan orang kedua/teman bicara.
    2. Tidak tergantung kondisi, situasi & ruang serta waktu.
    3. Harus memperhatikan unsur gramatikal.
    4. Berlangsung lambat.
    5. Selalu memakai alat bantu.
    6. Kesalahan tidak dapat langsung dikoreksi.
    7.Tidak dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik muka, hanya terbantu dengan tanda   baca.

    Kelebihan ragam bahasa tulis :
    a.    Informasi yang disajikan bisa dipilih untuk dikemas sebagai media atau materi yang menarik dan menyenangkan.
    b.    Umumnya memiliki kedekatan budaya dengan kehidupan masyarakat.
    c.    Sebagai sarana memperkaya kosakata.
    d.    Dapat digunakan untuk menyampaikan maksud, membeberkan informasi atau mengungkap unsur-unsur emosi sehingga mampu mencanggihkan wawasan pembaca.
    Kelemahan ragam bahasa tulis :
    a.    Alat atau sarana yang memperjelas pengertian seperti bahasa lisan itu tidak ada akibatnya bahasa tulisan harus disusun lebih sempurna.
    b.    Tidak mampu menyajikan berita secara lugas, jernih dan jujur, jika harus mengikuti kaidah-kaidah bahasa yang dianggap cenderung miskin daya pikat dan nilai jual.
    c.    Yang tidak ada dalam bahasa tulisan tidak dapat diperjelas/ditolong, oleh karena itu dalam bahasa tulisan diperlukan keseksamaan yang lebih besar.
    Contoh ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis
    No
    Ragam bahasa lisan
    Ragam bahasa tulis
    1.
    Papy bilang saya harus segera pulang
    Papy mengatakan bahwa saya harus segera pulang
    2.
    Adik lagi baca buku
    Adik sedang baca buku
    3.
    Saya tinggal di Bandung
    Saya bertempat tinggal di Bandung

    2. Ragam Bahasa Indonesia Berdasarkan Penutur

                a.      Ragam bahasa berdasarkan daerah disebut ragam daerah (logat/dialek)

    Luasnya pemakaian bahasa dapat menimbulkan perbedaan pemakaian bahasa. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang yang tinggal di Jakarta berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di Jawa Tengah, Bali, Jayapura, dan Tapanuli. Masing-masing memiliki ciri khas yang berbeda-beda.
    b.      Ragam bahasa berdasarkan pendidikan penutur.
    Bahasa Indonesia yang digunakan oleh kelompok penutur yang berpendidikan berbeda dengan yang tidak berpendidikan, terutama dalam pelafalan kata yang berasal dari bahasa asing, misalnya fitnah, kompleks, vitamin, video, film, fakultas. Penutur yang tidak berpendidikan mungkin akan mengucapkan pitnah, komplek, pitamin, pideo, pilm, pakultas. Perbedaan ini juga terjadi dalam bidang tata bahasa, misalnya mbawa seharusnya membawa, nyari seharusnya mencari. Selain itu bentuk kata dalam kalimat pun sering menanggalkan awalan yang seharusnya dipakai.
    contoh:
    1) Ira mau nulis surat seharusnya Ira mau menulis surat
    2) Saya akan ceritakan tentang Kancil seharusnya Saya akan menceritakan tentang Kancil.

    c.  Ragam bahasa berdasarkan sikap penutur

    Ragam bahasa dipengaruhi juga oleh setiap penutur terhadap kawan bicara (jika lisan) atau sikap penulis terhadap pembawa (jika dituliskan) sikap itu antara lain resmi, akrab, dan santai. Kedudukan kawan bicara atau pembaca terhadap penutur atau penulis juga mempengaruhi sikap tersebut. Misalnya, kita dapat mengamati bahasa seorang bawahan atau petugas ketika melapor kepada atasannya. Jika terdapat jarak antara penutur dan kawan bicara atau penulis dan pembaca, akan digunakan ragam bahasa resmi atau bahasa baku. Makin formal jarak penutur dan kawan bicara akan makin resmi dan makin tinggi tingkat kebakuan bahasa yang digunakan. Sebaliknya, makin rendah tingkat keformalannya, makin rendah pula tingkat kebakuan bahasa yang digunakan.

    Kesimpulan :


    • Bahasa Indonesia itu penggunaanya sangat beragam mulai dari bahasa lisan.
    • Ragam Bahasa berdasarkan Topik yang sedang dibacarakan beragam mulai dari bahasa ilmiah.
    • Penggunaan Bahasa sesuai dengan lawan bicara kita.
    • Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara.
    • Ragam Bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu Berdasarkan Media, Berdasarkan Cara Pandang Penutur, dan Berdasarkan Topik Pembicaraan


    Sumber :
    http://betawi59.blogspot.co.id/2018/03/ragam-bahasa.html?m=1

    Minggu, 18 Maret 2018

    Resep Bahan Dan Cara Memasak Nasi Uduk Komplit Yang Gurih

    Bahan-bahan yang digunakan untuk memasak nasi uduk komplit yang gurih

    Bahan Utama Nasi Uduk

    • 300 gram beras,cuci hingga bersih. Sisihkan
    • 450 ml santan kelapa kental

    Bahan Bumbu Nasi Uduk

    • 2 lembar daun salam muda
    • 2 butir cengkeh
    • 2 batang serai
    • 2 cm kayu manis
    • merica secukupnya
    • pala bubuk secukupnya
    • garam secukupnya

    Bahan Pelengkap Nasi Uduk

    • Tahu
    • Daging
    • Telur
    • Kerupuk
    • Sambal Kacang

    Cara Membuat/Memasak Nasi Uduk Komplit Yang Gurih

    1. Langkah pertama beras yang sudah dicuci bersih kemudian di kukus selama kurang lebih 30 menit
    2. Lalu, sebari menunggu nasi di kukus , anda dapat mendidihkan santan, cengkeh, kayu manis, pala, daun salam dan serai.Masak hingga santan menjadi harum kemudian saring.
    3. Lanjutkan dengan mencampurkan beras yang sudah dikukus tadi menjadi aron kemudian aduk hingga rata dan santan meresap.
    4. Kukus hingga 45-50 menit hingga nasi lunak, angkat
    5. Kami akan memberikan video tutorial resep membuat nasi uduk yang gurih dan juga komplit, bisa anda coba di rumah. Hanya saja dalam video ini anda dapat menyesuaikan nasi sesuai dengan kebutuhan.
    Dalam membuat nasi uduk perhatikan penggunaan santan, takaran santan akan membantu dalam hidangan nasi uduk yang gurih dan juga sedap. Disarankan juga menggunakan santan kental sehingga rasa gurih dari santan dapat terasa pada sajian nasi uduk kali ini.
    Nasi uduk yang gurih dan komplit dengan lauk pauk dan tumisan dapat disajikan sebagai hidangan utama yang biasanya hanya menggunakan nasi putih biasa. Nasi uduk dengan bahan pelengkap seperti tahu, daging , telur, kerupuk, sambal kacang, daging ayam dan ikan akan terasa nikmat. Nasi uduk yang gurih dan komplit ini dapat dihidangkan ketika ada axara keluarga ataupun sekedar menambah variasi menu nasi putih biasa.
    Sumber : https://selerasa.com/resep-bahan-dan-cara-memasak-nasi-uduk-komplit-yang-gurih

    Sejarah, Fungsi, dan Kedudukan Bahasa Indonesia

    Nama   : Fikri Fidiyanto
    Kelas   : 1KB07
    Dosen  : Ahmad Nasher

    GUNADARMA UNIVERSITY

    Sejarah, Fungsi, dan Kedudukan Bahasa Indonesia.

    Sejarah Bahasa Indonesia :

    Bahasa Indonesia adalah varian bahasa Melayu, sebuah bahasa Austronesia dari cabang bahasa-bahasa Sunda-Sulawesi, yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern.

    Pemerintah kolonial Hindia Belanda menyadari bahwa bahasa Melayu dapat dipakai untuk membantu administrasi bagi kalangan pegawai pribumi karena penguasaan bahasa Belanda para pegawai pribumi dinilai lemah. Dengan menyandarkan diri pada bahasa Melayu Tinggi (karena telah memiliki kitab-kitab rujukan) sejumlah sarjana Belanda mulai terlibat dalam standardisasi bahasa. Promosi bahasa Melayu pun dilakukan di sekolah-sekolah dan didukung dengan penerbitan karya sastra dalam bahasa Melayu. Akibat pilihan ini terbentuklah "embrio" bahasa Indonesia yang secara perlahan mulai terpisah dari bentuk semula bahasa Melayu Riau-Johor.

    Pada awal abad ke-20 perpecahan dalam bentuk baku tulisan bahasa Melayu mulai terlihat. Pada tahun 1901, Indonesia (sebagai Hindia Belanda) mengadopsi ejaan Van Ophuijsen dan pada tahun 1904 Persekutuan Tanah Melayu (kelak menjadi bagian dari Malaysia) di bawah Inggris mengadopsi ejaan Wilkinson. Ejaan Van Ophuysen diawali dari penyusunan Kitab Logat Melayu (dimulai tahun 1896) van Ophuijsen, dibantu oleh Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim.

    Intervensi pemerintah semakin kuat dengan dibentuknya Commissie voor de Volkslectuur ("Komisi Bacaan Rakyat" - KBR) pada tahun 1908. Kelak lembaga ini menjadi Balai Poestaka. Pada tahun 1910 komisi ini, di bawah pimpinan D.A. Rinkes, melancarkan program Taman Poestaka dengan membentuk perpustakaan kecil di berbagai sekolah pribumi dan beberapa instansi milik pemerintah. Perkembangan program ini sangat pesat, dalam dua tahun telah terbentuk sekitar 700 perpustakaan.[14] Bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai "bahasa persatuan bangsa" pada saat Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional atas usulan Muhammad Yamin, seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah. Dalam pidatonya pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan,

    "Jika mengacu pada masa depan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Tapi dari dua bahasa itu, bahasa Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa persatuan." .
    Selanjutnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Indonesia banyak dipengaruhi oleh sastrawan Minangkabau, seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka, Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar. Sastrawan tersebut banyak mengisi dan menambah perbendaharaan kata, sintaksis, maupun morfologi bahasa Indonesia.

     Fungsi Bahasa Indonesia :

    Fungsi Bahasa Indonesia secara umum adalah Sebagai alat komunikasi baik lisan maupun tulisan dan untuk mengekspresikan diri serta sebagai alat berintegrasi, beradaptasi sosial dan sebagai alat kontrol Sosial.

    Bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu yang dijadikan sebagai bahasa resmi dan bahasa persatuan Republik Indonesia, diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi.

    Fungsi Bahasa Indonesia Secara Khusus

    • Mewujudkan hubungan dalam Interaksi Dalam Kehidupan sehari-hari – Komunikasi yang dugunakan dapat menggunakan bahasa formal atau non formal.
    • Mewujudkan Seni (Sastra) – Bahasa yang dapat dipakai untuk mengungkapkan perasaan melalui media seni khususnya dalam hal sastra. Terkadang bahasa yang digunakan yang memiliki makna denotasi atau makna yang tersirat.
    • Mempelajari bahasa kuno – Dengan mempelajari bahasa kuno, akan dapat mengetahui peristiwa atau kejadian dimasa lampau.
    • Memahami IPTEK – Pengetahuan yang dimiliki oleh manusia akan selalu didokumentasikan supaya manusia lainnya juga dapat mempergunakannya dan melestarikannya demi kebaikan umat manusia.
    Kedudukan Bahasa Indonesia :


    Dalam kedudukannya Bahasa Indonesia dibagi menjadi 2 bagian, yaitu:

    1. Kedudukan bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional

    • Bahasa Indonesia Sebagai Lambang Kebanggaan Nasional.
    • Bahasa Indonesia Sebagai Lambang identitas Nasional.
    • Bahasa Indonesia Sebagai Alat pemersatu seluruh Bangsa Indonesia.
    • Bahasa Indonesia Sebagai Alat penghubung antar Budaya dan antar Daerah.
    2. Kedudukan Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Negara

    • Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan.
    • Bahasa Indonesia sebagai alat pengantar dalam dunia pendidikan.
    • Bahasa Indonesia sebagai penghubung pada tingkat Nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintah.
    • Bahasa Indonesia Sebagai pengembangan kebudayaan Nasional, Ilmu dan Teknologi.
    Kesimpulan :


    • Bahasa Indonesia dulunya adalah Bahasa Melayu yang melakukan upgrade oleh sastrawan Minangkabau, seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka, Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar.
    • Bahasa Indonesia sangat berguna dan penting bagi masyarakat indonesia untuk berkomunikasi baik lisan maupun tulisan sesama masyarakat indonesia mau seberapa jauhpun jaraknya.
    • Selain berkomunikasi, bahasa indonesia juga digunakan untuk mengekspresikan diri serta sebagai alat berintegrasi, beradaptasi sosial dan sebagai alat kontrol Sosial.
    • Kedudukan Bahasa Indonesia terbagi menjadi 2 bagian, yaitu Kedudukan bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional dan Kedudukan Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Negara
    • Sampai saat ini Bahasa Indonesia diajarkan di 45 Negara Asia maupun Eropa.

    Sumber :
    • http://www.fungsiklopedia.com/fungsi-bahasa-indonesia/
    • https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia

    Jumat, 09 Maret 2018

    Biografi Diri

    Nama   : Fikri Fidiyanto
    Kelas   : 1KB07
    Dosen  : Ahmad Nasher

    BIOGRAFI DIRI

         Nama saya Fikri Fidiyanto. Lahir di Bekasi tanggal 5 Agustus tahun 1999. Saya anak terakhir dari 2 bersaudara. Ayah saya pensiunan tentara, sedangkan ibu saya guru di salah satu sekolah dasar. Saya tidak punya hobi, melainkan kesukaan saja, yaitu main komputer. SD saya di SDN Bekasi Jaya IX Bekasi, SMP saya SMP Muhammadiyah 28 Bekasi, dan SMK saya SMK Negeri 6 Kota Bekasi. Makanan kesukaan saya olahan tahu.

    Kesimpulan :

        Saya Fikri Fidiyanto yang berasal dari bekasi, 5 Agustus 1999, hobi main komputer, dan suka makan olahan tahu.

    Sumber :

    Fikri Fidiyanto - Mahasiswa Universitas Gunadarma

    Minggu, 07 Januari 2018

    Pengertian Otonomi Daerah

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

    Halo teman - teman ...
    Sekarang saya ingin menjelaskan sedikit tentang Otonomi Daerah.

    Apa Sih itu Otonomi Daerah ??

         Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan tanggung jawab yang dimiliki oleh suatu daerah untuk mengelola pemerintahan setempat dan kepentingan masyarakat sesuai dengan aturan perundang-undangan dan peraturan daerah yang berlaku.
         Sementara, pakar ekonomi Matius Suparmoko mendefinisikan otonomi daerah sebagai kewenangan daerah otonom untuk mengatur kepentingan masyarakatnya sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat.

         Dasar hukum otonomi daerah tertuang dalam UU   No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah, serta UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang merupakan revisi dari UU sebelumnya.

         Pemberian wewenang otonomi daerah terhadap kabupaten atau kota didasari oleh desentralisasi yang bersifat nyata, luas, dan bertanggung jawab.


         Saya rasa sudah cukup, sebelumnya apabila terjadi kesalahan pada penulisan atau kata - kata saya mengecewakan, saya minta maaf. Saya hanyalah makhluk yang penuh dengan kekurangan mohon untuk dimaafkan adapula hal yang sangat penting adalah saling mengingatkan sebagai jalan silaturrahmi.

    Wassalamu 'Alaikum Wr. Wb

    Rabu, 22 November 2017

    Pengertian Politik Nasional

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

    Halo teman - teman ...
    Sekarang saya ingin menjelaskan sedikit tentang Politik Nasional.

    Apa Sih itu Politik ??

           Kata politik dalam bahasa  yunani yaitu “Politeal” yang berasal dari kata polis yang berarti kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri yaitu Negara dan teal yang berarti urusan. Politik secara umum adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik atau disebut Negara yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem tersebut dan melaksanakan tujuan-tujuan tersebut meliputi pengambilan suatu keputusan mengenai tujuan dari sistem politik itu menyangkut seleksi antara beberapa alternatif dan penyusunan skala prioritas dari beberapa tujuan yang telah dipilih.

           Politik nasional adalah asas , haluan, usaha dan kebijaksanaan Negara tentang pembinaan, perencanaan, pengembangan, pemeliharaan, pengendalian dan penggunaan secara kekuatan nasional untuk mencapai tujuan nasional. Dalam melaksanakan politik nasional maka susunlah strategi nasional. Misalnya strategi jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Strategi nasional adalah cara melaksanakan politik nasional dalam mencapai sasaran – sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan oleh politik nasional.

    Saya rasa sudah cukup, sebelumnya apabila terjadi kesalahan pada penulisan atau kata - kata saya mengecewakan, saya minta maaf. Saya hanyalah makhluk yang penuh dengan kekurangan mohon untuk dimaafkan adapula hal yang sangat penting adalah saling mengingatkan sebagai jalan silaturrahmi.



    Wassalamu 'Alaikum Wr. Wb.

    Rabu, 08 November 2017

    Ketahanan Nasional

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

    Halo teman - teman ...
    Sekarang saya ingin menjelaskan sedikit tentang Ketahanan Nasional.

        Sejak proklamasi 17 Agustus 1945, kehidupan bangsa Indonesia tidak luput dari gejolak dan ancaman  baik dari dalam maupun dari luar negeri yang dapat membahayakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), seperti :
    a.  Agresi Militer Belanda,
    b. Gerakan Separatis : PKI, DI/TII dan lain-lain,
        Ditinjau dari geopolitik dan geostrategis dengan posisi geografis, potensi Sumber Daya Alam serta jumlah dan kemampuan penduduk, telah menempatkan bangsa Indonesia menjadi ajang persaingan dan perebutan negara-negara besar, sehingga menimbulkan dampak negatif yang dapat membahayakan kelangsungan dan eksistensi negara Indonesia.

    POKOK-POKOK PIKIRAN TENTANG KETAHANAN NASIONAL
    Aspek alamiah adalah :

    a. Posisi dan lokasi geografi negara
    b. Keadaan dan kekayaan alam
    c. Keadaan dan kemampuan penduduk

    Aspek sosial/kemasyarakatan adalah :
    a. Ideologi
    b. Politik
    c. Sosial
    d. Budaya
    e. Pertahanan dan Keamanan

    Saya rasa sudah cukup, sebelumnya apabila terjadi kesalahan pada penulisan atau kata - kata saya mengecewakan, saya minta maaf. Saya hanyalah makhluk yang penuh dengan kekurangan mohon untuk dimaafkan adapula hal yang sangat penting adalah saling mengingatkan sebagai jalan silaturrahmi.


    Wassalamu 'Alaikum Wr. Wb.